Central Data Catalog

Citation Information

Type Journal Article - Bulletin of Indonesian Economic Studies
Title Twenty Years of Expenditure Inequality in Indonesia, 1993-2013
Author(s)
Volume 50
Issue 2
Publication (Day/Month/Year) 2014
Page numbers 243-254
URL http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/00074918.2014.939937#.VCxp6hZfZzs
Abstract
In this article, we consider the recent increase in inequality in Indonesia. We make new, consistent estimates of expenditure inequality for 1993–2013, using several measures that draw on household expenditure data from the National Socioeconomic Survey (Susenas) for 1993–2013. In doing so, we note that the central statistics agency, Badan Pusat Statistik (BPS), used grouped data for its estimates of inequality until 2009 and that this underestimated inequality up to then. Thus the rise in inequality reported since 2009 actually has a longer history. We argue that Indonesia experienced divergence and convergence at the same time: the magnitude of the rise in inequality was significant (divergence), but the rise was greatest in provinces or districts with low initial levels of inequality (convergence). We consider the literature on drivers of changes in inequality and identify a set of hypotheses, with an empirical basis, which we introduce as potential Indonesian-specific drivers of rising inequality for future exploration.

Pada tulisan ini, penulis menganalisis naiknya ketimpangan di Indonesia. Penulis membuat estimasi baru yang konsisten mengenai ketimpangan pengeluaran yang terjadi pada 1993–2013 dengan menggunakan beberapa ukuran berdasarkan pengeluaran rumah tangga dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 1993–2013. Dalam melakukan estimasi ini, penulis memperhatikan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan data berkelompok sampai tahun 2009 dalam estimasinya terhadap ketimpangan. Hasil estimasi yang demikian mengecilkan angka kemiskinan yang sebenarnya terjadi sampai tahun 2009. Artinya, kenaikan ketimpangan yang dilaporkan sampai 2009 sesungguhnya memiliki sejarah yang lebih panjang. Penulis berpendapat bahwa Indonesia mengalami pencaran (divergence) dan penyatuan (convergence) yang terjadi bersamaan, artinya besaran kenaikan ketimpangan adalah signifikan (divergen), namun kenaikan terbesarnya terjadi di propinsi atau kabupaten/kota dengan tingkat ketimpangan awal yang rendah (konvergen). Penulis membahas literatur mengenai pemicu perubahan ketimpangan serta mengidentifikasikan seperangkat hipotesis, dengan dasar empiris, yang penulis ajukan sebagai penjelasan spesifik tentang kenaikan ketimpangan di Indonesia, untuk dapat digunakan oleh penelitian di masa mendatang.

Related studies

»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»
»